Friday, 15 January 2010

" Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan mati "

Setiap makhluk di cipta dengan segala kekurangan dan kelebihan, dengan sebuah ketetapan ketetapan yang sudah ditetapkan oleh Allah, SWT, baik rizkinya, jodohnya dan matinya.
Yang lebih parah terkadang orang salah dalam memahami konsep ini, ia terkadang merasa seolah-olah hidup ini hanya miliknya, seolah tak pernah ada yang mengaturnya, padahal hal yang mustahil, jika ada sebuah mesin yang berjalan tanpa ada seorang operator yang mengoprasikannya, begitupun dengan diri kita, Allah mengatur seluruh organ tubuh kita, mengedipkan mata kita, mendetakkan jantung kita, menggerakkan lambung untuk meremas makanan, mengelirkan darah ke seluruh tubuh kita, dan banyak lagi yang lain, yang terkadang tidak pernah di sadari oleh manusia.
Termasuk di dalamnya hidup dan matinya sampai kapan ia akan hidup dan kapan ia akan dimatikan, hal ini yang jarang orang rasakan, ia seakan-akan hidup di dunia ini untuk selama-lamanya, saya tidak akan pernah mati, sehingga manusia dengan perasaan itu ia jauh dari nilai – nilai ketuhanan yang sudah ditanamkan sejak di dalam rahim ibu kita oleh Allah;

" Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)","
( QS. Al-A'raf : 172 )

Oleh karena itu kenapa Rosulullah Muhammad SAW, dalam haditsnya menganjurkan kita untuk berziarah ke kubur yang tujuannya bukan untuk meminta-minta atau dengan maksud lain, tapi inti darinya adalah Tazkirotul Maut sebagai pengingat bahwa sesungguhnya kitapun akan mati sebagaimana orang yang ada di dalam kubur itu.
Sehingga ketika kita mengetahui hakikat dari pada hidup yang sebentar itu, yang implementasi nya pada pola sikap dan tingkah laku kita dalam sehari-hari, kita akan selalu merasa di awasi, maka setelah begitu kita akan memaksimalkan seluruh potensi kita, baik potensi ruhiyah maupun potensi akliyah, ia akan curahkan seluruh konsentrasinya, perhatiannya, kepeduliannya, dan kerja kerasnya, hanya untuk persiapan menuju tempat yang kekal abadi, bukan untuk yang sementara ini.
Kumudian ia akan berkata : pada hari inilah, akhir dari hidupku maka aku akan persembahkan sholat khusyu, bacaan Al-Qur'an dengan tadabbur, dzikir dengan hadirnya hati, adil dalam segala hal dan berakhlaq mulia. Ketika sudah begitu maka endingnya adalah kebahaigiaan akhirat.